"Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?" (QS. Al Insan : 1).
أَوَلَا يَذْكُرُ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْئًا
"Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?" (QS. Maryaam : 67).
Kedua ayat di atas dimulai dengan kalimat istifham, yang menurut perhatian supaya manusia memikirkan diri dan proses kejadiannya, sehingga dengan itu, ia akan berlaku dengan benar dalam kehidupan di dunia ini dengan fungsi dan tujuan penciptaannya.
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, pada mulanya ia bukanlah apa-apa, tidak ada, tidak berwujud, dan tidak berbentuk, kemudian atas kehendak-Nya ia diciptakan.
Mari sama-sama kita telaah surah al-insan ayat 1 tersebut...
Ini merupakan ayat pertama yang menjadi pembuka surat al-Insan. Ia dimulai dengan sebuah pertanyaan. Namun, pertanyaan tersebut bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Melainkan pertanyaan yang bermakna penegasan. Sama seperti ketika kita berkata kepada seseorang, “Bukankah sebelumnya engkau berada dalam kondisi miskin?! Bukankah ia telah memberikan banyak bantuan kepadamu?! Bukankah aku telah mengatakan hal tersebut sebelumnya?”
Nah, ayat di atas juga bermakna demikian. Dengan bentuk pertanyaan seperti itu Allah ingin menegaskan sekaligus mengingatkan kita tentang sebuah hakikat yang sangat penting. Yaitu bahwa sebelum hadir ke dunia, manusia tidak memiliki wujud dan belum menjadi sesuatu yang disebut-sebut. Jangankan eksistensi dan wujudnya, namanya saja belum ada. Entah berada di mana kita seratus tahun, dua ratus tahun, atau seribu tahun yang lalu. Lalu jika demikian, bagaimana manusia bisa berlaku sombong, congkak dan angkuh. Tidakkah ia mengingat kondisinya yang berawal dari tiada?! Tidakkah ia mengingat kelemahan dan ketidakberdayaannya?! Kalaulah saat ini kita menjadi besar, tampan, cantik, memiliki harta, dan jabatan maka harus disadari bahwa sebelumnya kita tiada, tidak mempunyai modal, dan tidak memiliki apa-apa.
Redaksi di atas merupakan cara Allah dalam menyadarkan dan mengingatkan manusia bahwa Dia Mahakuasa, sementara manusia lemah dan tak berdaya. Dalam surat Maryam ayat 9 Allah juga befirman, “Hal itu adalah mudah bagi-Ku. Aku telah menciptakan kamu sebelum itu, yaitu di saat kamu belum ada.”
Lalu dilanjutkan dengan ayat berikutnya yang berkenaan tentang prinsip manusia itu sendiri.
Allah mengabarkan tentang manusia yang merasa heran dan menganggap mustahil kembalinya mereka setelah kematian. Dia berfirman dalam ayat ini: wa yaquulul insaanu a idzaa maa mittu lasaufa ukhroju hayyan. A walaa yadzkurul insaanu annaa khalaqnaaHu min qablu wa lam yaku syai-an (“Dan berkata manusia: ‘Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?’ Dan tidaklah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?”)
Allah mengemukakan argumentasi tentang pengembalian tersebut dengan awal mula penciptaan. Yaitu, Dia telah menciptakan manusia yang dahulunya tidak ada sama sekali. Apakah Dia tidak mungkin mampu mengembalikannya, sedang makhluk-Nya itu sudah menjadi sesuatu.
Sebagaimana Allah berfirman: “Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.” (QS. Ar-Ruum: 27)





0 komentar:
Posting Komentar