Sudut Pandang sangat mempengaruhi cara berfikir

Berfikir bahwa semuanya adalah dari Allah dan kembali ke Allah.

Berbagi itu indah.

Berbagi dengan ilmu, harta, energi dan jiwa..

Hidup itu indah.

Bersyukur adalah hal paling indah dalam hidup.

Anti galau dengan hati

Hati yang tenang memberikan kekebalan anti galau..

Kita ini kecil

Cukup besarkan Allah saja.

Selasa, 14 Maret 2017

Prinsip Penciptaan Manusia


هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
"Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?" (QS. Al Insan : 1).

أَوَلَا يَذْكُرُ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْئًا
"Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?" (QS. Maryaam : 67).

Kedua ayat di atas dimulai dengan kalimat istifham, yang menurut perhatian supaya manusia memikirkan diri dan proses kejadiannya, sehingga dengan itu, ia akan berlaku dengan benar dalam kehidupan di dunia ini dengan fungsi dan tujuan penciptaannya.

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, pada mulanya ia bukanlah apa-apa, tidak ada, tidak berwujud, dan tidak berbentuk, kemudian atas kehendak-Nya ia diciptakan.


Mari sama-sama kita telaah surah al-insan ayat 1 tersebut...

Ini merupakan ayat pertama yang menjadi pembuka surat al-Insan. Ia dimulai dengan sebuah pertanyaan. Namun, pertanyaan tersebut bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Melainkan pertanyaan yang bermakna penegasan. Sama seperti ketika kita berkata kepada seseorang, “Bukankah sebelumnya engkau berada dalam kondisi miskin?! Bukankah ia telah memberikan banyak bantuan kepadamu?! Bukankah aku telah mengatakan hal tersebut sebelumnya?”
Nah, ayat di atas juga bermakna demikian. Dengan bentuk pertanyaan seperti itu Allah ingin menegaskan sekaligus mengingatkan kita tentang sebuah hakikat yang sangat penting. Yaitu bahwa sebelum hadir ke dunia, manusia tidak memiliki wujud dan belum menjadi sesuatu yang disebut-sebut. Jangankan eksistensi dan wujudnya, namanya saja belum ada. Entah berada di mana kita seratus tahun, dua ratus tahun, atau seribu tahun yang lalu. Lalu jika demikian, bagaimana manusia bisa berlaku sombong, congkak dan angkuh. Tidakkah ia mengingat kondisinya yang berawal dari tiada?! Tidakkah ia mengingat kelemahan dan ketidakberdayaannya?! Kalaulah saat ini kita menjadi besar, tampan, cantik, memiliki harta, dan jabatan maka harus disadari bahwa sebelumnya kita tiada, tidak mempunyai modal, dan tidak memiliki apa-apa.
Redaksi di atas merupakan cara Allah dalam menyadarkan dan mengingatkan manusia bahwa Dia Mahakuasa, sementara manusia lemah dan tak berdaya. Dalam surat Maryam ayat 9 Allah juga befirman, “Hal itu adalah mudah bagi-Ku. Aku telah menciptakan kamu sebelum itu, yaitu di saat kamu belum ada.”
Lalu dilanjutkan dengan ayat berikutnya yang berkenaan tentang prinsip manusia itu sendiri.
Allah mengabarkan tentang manusia yang merasa heran dan menganggap mustahil kembalinya mereka setelah kematian. Dia berfirman dalam ayat ini: wa yaquulul insaanu a idzaa maa mittu lasaufa ukhroju hayyan. A walaa yadzkurul insaanu annaa khalaqnaaHu min qablu wa lam yaku syai-an (“Dan berkata manusia: ‘Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?’ Dan tidaklah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?”)
Allah mengemukakan argumentasi tentang pengembalian tersebut dengan awal mula penciptaan. Yaitu, Dia telah menciptakan manusia yang dahulunya tidak ada sama sekali. Apakah Dia tidak mungkin mampu mengembalikannya, sedang makhluk-Nya itu sudah menjadi sesuatu.
Sebagaimana Allah berfirman: “Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.” (QS. Ar-Ruum: 27)

Senin, 13 Maret 2017

Sumber Ketenangan

"Tidak lah dunia akan menjadi obsesi seseorang, kecuali dunia menjadi sangat melekat dihatinya dalam empat keadaan: Kefakiran yang tak kenal kekayaan, keinginan yang tak putus-putus, kesibukan yang tak pernah habis, dan angan-angan yang tak ada ujungnya."
(Umar Bin Khatab)

Mari kita bangun semangat hari ini dengan rasa syukur. Setiap hari anugerah dan nikmat-Nya selalu diberikan kepada kita hamba-hambanya, meski pada hari kemarin dan bahkan pada hari ini pun kemaksiatan dan dosa selalu kita lakukan. Setiap jam, perlindungan dan pemeliharaan-Nya terus menerus mengayomi kita, padahal pada jam yang lalu dan mungkin pada jam ini, kita masih menentang-Nya dengan dosa-dosa dan keburukan-keburukan kita. Allah telah membangunkan kita pada hari ini. Allah telah memberikan kesempatan pada kita untuk menghapus dosa dan beramal shalih.

Sahabatku,
Mari kita ucapkan istighfar. memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan yang kita perbuat. Syukur atas ampunan dan semua karunia-Nya yang tak pernah berhenti. Ada hadits yang bagus untuk kita renungkan di waktu pagi. Rasulullah saw pernah mengatakan, bahwa setiap masuk waktu pagi, ada dua Malaikat mengajukan permohonan mereka kepada Allah swt. Malaikat pertama berdo'a: "ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang menginfaqkan hartanya." Yang kedua berdo'a: "Ya Allah jadikanlah semakin tidak punya orang yang pelit terhadap hartanya." Coba kita renungkan butir-butir do'a yang diucapkan kedua malaikat suci itu. 

Sahabatku,
Adakah doa malaikat Allah yang tak pernah bermaksiat itu ditolak Allah? Mungkinkah permohonan itu tidak diijabah oleh Allah? Kaitkanlah do'a para malaikat itu dengan firman Allah dalam surat Saba' ayat 39 yang artinya: "Katakanlah: 'Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi siapa-siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja yang kau infaqkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah pemberi rizki yang sebaik-baiknya."
Rizki mutlak ada dalam genggaman Allah swt. tak satupun makhluk yang bisa menentukan kadar dan bagian rizki. Do'a para malaikat yang diucapkan setiap pagi, dan juga firman Allah swt tadi sesungguhnya menegaskan bahwa nilai harta yang dikeluarkan di jalan Allah takkan hilang.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan, "kandungan ayat tersebut adalah apapun yang kalian infaqkan sesuai dengan apa yang Allah perintahkan maka Allah pasti akan menggantikan sesuatu itu untukmu sejak di dunia. Lalu di akhirat, Allah akan memberikan balasan pahala atasmu." Allah menjamin bahwa tak pernah ada orang yang berinfaq, bersedekah, berzakat, berderma, dan semacamnya, yang kemudia jatuh miskin.

Wahai sahabatku,
Kenyataan hidup yang kita perhatikan saat ini atau bahkan pengalaman kita atau orang-orang di sekitar kita. Perhatikan keadaan teman-teman, sahabat, orang tua, atau siapapun yang ada disekitar kita. Benarkah jaminan Allah tersebut? Adakah orang yang jatuh miskin karena ia banyak berinfaq dan bersedekah? Adakah orang yang akhirnya bangkrut akibat ia membantu saudara-saudaranya di jalan Allah? 
Tapi kenapa terkadang kita masih kerap menolak dan enggan untuk menyisihkan sebagian harta untuk kepentingan di jalan Allah ? Mari kita berwaspada dari godaan syaitan yang selalu menakut-nakuti dengan kefakiran, sehingga seseorang menjadi bakhil untuk mengeluarkan sebagian hartanya di jalan Allah swt. "Syaitan itu menjanjikan kefakiran dan memerintahkan kalian kepada kekejian. Sedangkan Allah menjanjikan kalian maghfirah (ampunan) dari-Nya dan karunia. Dan, Allah Maha Luas pengetahuan-Nya," begitu arti firman Allah dalam Surat Al baqarah, ayat 286.
Infaq, shadaqah, zakat, tak pernah membuat orang miskin, dan justru menjadikan jiwa seseorang pantag gelisah dan jauh dari kondisi resah. Itu manfaat lain dari engeluarkan infaq di jalan Allah. Allah swt berfirman, " Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apa bila mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecula orang-orang yang di dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa." (Qs Al-ma'arij : 19-25)

Sahabatku Logika beramal shalih memang kerap tidak sejalan dengan logika kemanusiaan dan keduniaan. Bukan hanya tidak sejalan, bahkan bisa saja sangat bertentangan. Lihatlah contoh lain dari hadits Rasulullah saw, "Dua raka'at fajar itu lebih baik dari dunia dan seisisnya. (HR Muslim dari Aisyah). Atau hadits lain, "Pergi di pagi hari di jalan Allah lebih baik dari dunia dan seisinya." (HR Bukhari dan Muslim dari Anas)
Itulah logika ketaatan. Itulah logika pahala dan karunia Allah swt. Yang mungkin menjadi masalah, adalah bila kita membatasi balasan Allah kepada kita dengan memandangnya bahwa balasan Allah itu semata pada balasan material yang berbentuk uang. Sebab penggantian yang Allah berikan tidak selalu berarti bahwa orang yang berinfak akan menjadi kaya secara material. Akan tetapi Allah menjamin hidupnya menjadi berkecukupan, butuh ini cukup butuh itu cukup, tidak berlebihan dan itu menjadikannya lebih baik. Sebab kita semua tahu, harta tidak pernah menjamin kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Yang membahagiakan adalah rasa cukup itu. Balasan Allah di dunia, bisa berupa kebaikan keluarga, kesehatan, waktu lapang, berkah harta yang ada dalam kesedikitan dan sebagainya. Bisa juga balasannya lebih bersifat maknawi seperti penunjuk pada kebenaran, ditolong untuk melakukan kebaikan, kelapangan hati, ketenangan bathin, tumbuh dan mekarnya kecintaan orang lain terhadap kita, dan lain sebagainya. Terlebih balasan nanti diakhirat.

Orang yang mengerti, mengetahui bahwa rizki bathin itu lebih membuat bahagia dan lebih kekal dari apapun sifatnya yang terlihat oleh mata. Ada orang yang bodoh, tapi ia memiliki harta dunia yang berlimpah. Ada orang pintar, kuat, sehat, pandai, tapi ia tidak memiliki harta bahkan ia miskin. Seperti ungkapan seorang salafushalih, "sesungguhnya Allah memelihara hamba-Nya dari dunia sebagaimana ia memelihara salah seorang dari kalian dari makan dan minum yang membawa penyakit."
Lebih tegas lagi jika kita melihat hadits qudsi dari Rasulullah yang berbunyi, "Sesungguhnya ada di antara hamba-Ku yang tidak menjadi baik kecuali bila ia dalam kondisi fakir. Bila Aku beri kekayaan padanya niscaya hal itu akan merusaknya. Dan sesungguhnya ada di antara hambaKu yang tidak baik keadaannya kecuali bila ia dalam kondisi kaya, jika ia Aku fakirkan maka itu akan merusaknya."

Sahabatku, Tak ada yang abadi di dunia.

Minggu, 27 Maret 2016

Jangan Tunda-tunda lagi.

Senin, 28 Maret 2016
Cilegon, Banten, Indonesia.

Sebagai seorang pengangguran seperti biasanya hari-hari diisi dengan kegiatan yang kita ciptakan dan kita rencanakan. Tak ada yang mengatur. Tak ada perintah, kecuali perintah Raja yang Maha Raja.

Segelas kopi, semangkok mie, dan segalon air di atas dispenser menjadi penyegar pagi untuk seorang yang sedang dibina disini. Inspirasi datang dari mana saja bisa dari penglihatan maupun pendengaran bahkan dari keduanya. "Berbuatlah apa yang menjadi tugas kita saat ini, jangan ditunda lag". Karena saya pengalaman dengan penundaan ini. Saya adalah korban penundaan. Jangan sampai kawan menjadi korban selanjutnya karena memang tidak menyenangkan dan menyesakan dada. Jangan serahkan diri anda menjadi korban!!!